Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Quotes Hanyalah Quotes

"Keampuhan kalimat motivasi, dinikmati mereka yang benar-benar melakukannya, dibanding mereka yang mempostingnya karena untuk menyindir orang lain" Tak sedikit dari pengguna sosmed yang menuangkan perasaan di halaman akunnya. Apapun wujudnya, tak terkecuali quotes . Biasanya, orang mem-posting quotes karena mewakili perasaannya, menyindir orang lain, mencitrakan diri dan hanya sedikit yang benar-benar untuk pengingat diri. Tak ada masalah jika mencitrakan diri yang relevan dengan kenyataan hidupnya. Wajar. Tak terkecuali diri saya sendiri, sering mencari quotes yang sesuai dengan apa yang saya rasakan. Kenyataannya, ketika rasa suka/sedih/bahagia/marah/benci, dan semacamnya sudah hilang. Maka lenyap juga makna dari quotes tersebut. Ketika saya ditanya, "apa quotes favoritmu?", butuh waktu agak lama memikirkan apa ya yang keren nih... FAKE ! Sadar sesadar-sadarnya, quotes hanyalah kalimat bantuan yang mewakilkan apa yang kita rasakan. Artinya, quotes han...

Di Atas Normal #LupusTalk

"Ibarat imunitas tubuh kita yang melebihi batas normal, maka kemampuan kita Tuhan berikan juga lebih dari standar normal" Membicarakan si lupus, banyak yang mengatakan bahwa itu derita. Kita memiliki imunitas tubuh yang lebih banyak daripada kebanyakan orang. Sakit sih, tapi aku ingin mengajak temen-temen berpikir lebih luas lagi. Tuhan memberikan kepercayaan pada kita dengan menghidupkan imun yang jumlahnya lebih banyak. Artinya, kita memiliki kapasitas yang lebih besar untuk hidup bersama si lupus. Berbeda dengan penyakit non autoimun, yang kebanyakan si penyakit diundang oleh dirinya sendiri. Sedangkan kita, sudah memiliki 'bakat' untuk rentan menjadi LUPUS. Sisi positifnya, kalau kita diberikan kapasitas untuk menerima lupus, artinya kita juga bisa memiliki kapasitas di luar penyakit ini. Coba, apa kelebihanmu? Apa passion- mu? Apa bakatmu? Prestasi-prestasi apa yang pernah kaucapai? "Gara-gara lupus aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi" "Karen...

Pada Akhirnya

"Lepaskan sesuatu yang membuat mentalmu sakit. Bukan beban lingkungan, tapi pemikiranmu sendiri" Kutipan yang kubuat sendiri, untuk menampar diriku sendiri. Tiga tahun belakangan, aku terjebak dalam idealisme yang kuat, menganggap sesuatu yang 'benar' adalah hal yang mutlak. Padahal, setiap kepala di dunia ini memiliki standart kebenaran masing-masing. Sifat mengoreksi orang lain sebenarnya bukan hal yang negatif. Hal itu merupakan sisi positif manusia yang bisa melihat 'kebenaran'. Tapi seringkali kita merasa paling benar. Akupun begitu, merasa tak ada yang benar di mataku . Ini membuatku semakin hari semakin merusak mentalku. Ribet dengan pandanganku sendiri. Sampai-sampai aku penuh amarah, "kenapa sih si A begini" "ih si B kok gitu. Itu kan ga bener" "Si C sadar ga sih, kelakuannya alay". Daaaaannnnn.... Masih banyak komen negatif karena di mataku tak ada yang benar. Pada akhirnya aku tersadar. Perilakuku sangat merusak m...