Pada Akhirnya
"Lepaskan sesuatu yang membuat mentalmu sakit. Bukan beban lingkungan, tapi pemikiranmu sendiri"
Kutipan yang kubuat sendiri, untuk menampar diriku sendiri. Tiga tahun belakangan, aku terjebak dalam idealisme yang kuat, menganggap sesuatu yang 'benar' adalah hal yang mutlak. Padahal, setiap kepala di dunia ini memiliki standart kebenaran masing-masing.
Sifat mengoreksi orang lain sebenarnya bukan hal yang negatif. Hal itu merupakan sisi positif manusia yang bisa melihat 'kebenaran'. Tapi seringkali kita merasa paling benar. Akupun begitu, merasa tak ada yang benar di mataku. Ini membuatku semakin hari semakin merusak mentalku. Ribet dengan pandanganku sendiri. Sampai-sampai aku penuh amarah, "kenapa sih si A begini" "ih si B kok gitu. Itu kan ga bener" "Si C sadar ga sih, kelakuannya alay".
Daaaaannnnn.... Masih banyak komen negatif karena di mataku tak ada yang benar.
Pada akhirnya aku tersadar. Perilakuku sangat merusak mentalku sendiri. Selain itu aku banyak membuang waktu untuk hal seperti itu.
Siapa yang patut menghakimi perilaku-perilaku orang? Tuhan. Aku bukan Tuhan, aku pun pastinya tak pantas menghakimi sesuatu yang bukan jadi urusanku.
Aku belajar mengabaikan. Aku belajar peduli sesuatu yang memang harus dipedulikan. Aku membuat batas pada mereka yang sepertinya akan merugikanku.
Mungkin kalian mengalami hal yang sama. Merasa benar, merasa perilaku kita baik-baik saja. 😔
Aku mengutip kalimat dari sosmed :
Orang punya kesalahan, kita punya mulut dan hati. Begitu pula, kita punya aib, dan mereka punya mulut.
Self Awareness !!!
Komentar
Posting Komentar