Something called "Special"
Mamaku dari dulu kesal denganku yang tak pernah peduli dengan diriku sendiri. Penampilanku, kebersihan diriku, bahkan aku mengabaikan kesehatanku.
Sedari kecil aku mengalami body shaming oleh keluargaku sendiri sehingga aku sangat amat yakin bahwa diriku jelek. Bully-an itu terus tertanam di alam bawah sadarku dan membuatku memiliki pikiran bahwa "loe mau bersih, loe mau dandan, lo mau pake baju sebagus apapun tetap aja jelek".
Masa kecilku yang terbiasa dengan bully-an fisik, membuatku menjadi 'tarzan betina'. Aku suka manjat pohon, main di sawah, main di kebon, main di lumpur, bahkan aku pernah jatuh dari pohon kersen dan terjerat duri 'hidup' (duri yg menjalar dan akan mencengkeram ketika kita bergerak). Lalu aku lebih suka bermain dengan anak laki-laki karena aku merasa gagal menjadi perempuan.
Masa SD berlalu, karena suatu hal aku harus pindah ke kota lain. Mindsetku tetap seperti sebelumnya. Aku anak baru di sekolah itu dan tidak ada satupun teman SD ku yang satu sekolah denganku. Bahasa kami sedikit berbeda, sehingga timbul cemoohan dari teman sekelas. Lagi lagi aku kecewa, dan itu menjadi sebuah 'tanaman' di alam bawah sadar. Wali kelasku sungguh sebal melihat penampilanku yang amat sangat menjijikkan, bahkan ketika mamaku ambil raport, dia disindir habis-habisan oleh wali kelasku.
Pada akhirnya aku jatuh cinta, cinta monkey yang sebenarnya enggak dari hati karena cuma ikut-ikutan temen. Bukan jatuh cinta tepatnya, kagum aja sih, haha ... Ini membuatku sedikit ingin menjadi 'perempuan'. Aku surati kakak kelas yang menjadi target, but no respon (anjir begooooo banget gue). Karena gagal, akhirnya kembali menjadi Tarzan Betina.
Akhirnya di kelas 3 SMP, aku bener-bener nemuin my first love (gausa diceritakan ya). Pertanyaannya, kenapa dia suka sama cewek pecicilan yang naudzubillah jeleknya ini. Sampai sekarang pun aku ngga tau jawabannya. Tapi kami masih sama sama malu jadi emmm.. statusnya gajelas. Dan setelah lulus aku lost contact sm dia.
Masuk fase SMA, masih dengan iringan body shaming oleh keluargaku sendiri, makin membuatku minder. Tapi akhirnya aku ketemu si cowok itu lagi dan kita jadian. Aku ingin terlihat lebih 'perempuan' di mata cowok ini sampai-sampai first date aku beli rok ! Bitch pake rok selutut astaghfirullah wkwkwk
Belum lama jadian, tiba-tiba aku sakit. AKU LUMPUH. Aku makin membenci diriku sendiri, bahkan sempat berpikir bahwa aku menyesal telah dilahirkan. Untungnya cowok itu enggak ninggalin aku di saat terpuruk. Sehingga aku semangat untuk berobat. Akhirnya aku sembuh, tapi tidak jelas diagnosisnya apa. Kondisi tidak bisa fit 100% lagi.
Masuk fase kuliah, aku terdiagnosis lupus. Terpuruk? Iya. Orang yang kupercaya malah membuatku makin down. Ospekku tidak berjalan baik, tiap pagi harus di ruang kesehatan dengan menggigil. Tidak ada bully-an fisik di kelasku. Hanya saja aku dipanggil "pentol" di organisasi karena pipiku menggelembung karena efek obat kortikosteroid. Tapi hal itu tidak membuatku down, karena kutau mereka tulus berteman dan kami semua saling menyayangi seperti keluarga.
Setelah itu aku bangkit, aku pede buat bangkit. Penyakit itu adalah sesuatu yang spesial (mari kita bahas di lain waktu).
Aku mengikuti kegiatan di organisasi lain (organisasi sosial). Di mana hampir tiap di pertemuannya aku mengalami body shaming yang amat menyakitkan. Seorang ibu-ibu, usianya di bawah mamaku, dia mengatakan secara tidak langsung bahwa saya jelek dan membandingkan dengan seseorang yang dibanggakan oleh ibu itu. Sekali, dua kali, tiga kali. Awalnya kuhitung berapa kali dia mengatakan secara tersirat bahwa diriku jelek, tapi lama lama nggak kuhitung karena sudah terlalu banyak dan berlebihan.
Mama kekeuh selalu minta aku dandan, minta aku tampil seperti perempuan. Akhirnya berkat temen organisasi kampusku lagi demam gincu, kami akhirnya main gincu. Dan.... Pas ngaca, ku berfikir "dev, ternyata kamu ga seburuk yang mereka katakan"
Dari itu aku mulai peduli lagi dengan diriku. Aku merasa bebas, merasa orang akan menghentikan bullying nya padaku. Aku semakin berani. Sampai suatu ketika aku melihat orang lain 'sok istimewa'. Hatiku mulai tinggi, mulai sombong dan merasa 'emang siapa sih dia?'.
Lama-lama aku tersadar, ketika aku merasa "spesial", pasti ada orang yang semacam diriku mengatakan 'emang siapa sih dia?'
Aku down lagi
AKU BUKAN ORANG SPESIAL
Aku kembali menutup diri seperti dahulu.
Hingga kelulusan datang aku semakin tertutup dan makin banyak belajar, bahwa kita tidak boleh merasa 'spesial' dengan TINGGI HATI. Setiap orang memiliki versinya sendiri dalam berprestasi atau hanya menonjolkan diri.
Setiap manusia lahir di dunia ini pastinya spesial bukan? Bahkan anak yang dilahirkan tanpa kasih sayang, mereka spesial, mereka survive. Kita sama di mata Tuhan. Populer tidak membuat kita menjadi spesial di mata Tuhan. Dianggap cupu pun juga tidak membuat kita terhina.
Apa yang kita katakan kepada orang lain bisa merubah hidup seseorang. Jadi mulailah berkata baik, hindari body shaming, cintai diri sendiri (bukan narsisme ya !), dan jadilah spesial karena kita semua spesial, tidak bisa dibandingkan. Kita hanya bisa membandingkan diri kita yang dahulu, dan diri kita yang akan datang, akankah lebih baik, atau sebaliknya?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
"Setiap orang di dunia ini spesial, bahkan mereka yang dilahirkan tanpa kasih sayang"
Komentar
Posting Komentar