Quotes Hanyalah Quotes

"Keampuhan kalimat motivasi, dinikmati mereka yang benar-benar melakukannya, dibanding mereka yang mempostingnya karena untuk menyindir orang lain"

Tak sedikit dari pengguna sosmed yang menuangkan perasaan di halaman akunnya. Apapun wujudnya, tak terkecuali quotes. Biasanya, orang mem-posting quotes karena mewakili perasaannya, menyindir orang lain, mencitrakan diri dan hanya sedikit yang benar-benar untuk pengingat diri.
Tak ada masalah jika mencitrakan diri yang relevan dengan kenyataan hidupnya. Wajar.

Tak terkecuali diri saya sendiri, sering mencari quotes yang sesuai dengan apa yang saya rasakan.
Kenyataannya, ketika rasa suka/sedih/bahagia/marah/benci, dan semacamnya sudah hilang. Maka lenyap juga makna dari quotes tersebut.
Ketika saya ditanya, "apa quotes favoritmu?", butuh waktu agak lama memikirkan apa ya yang keren nih... FAKE !
Sadar sesadar-sadarnya, quotes hanyalah kalimat bantuan yang mewakilkan apa yang kita rasakan. Artinya, quotes hanya berfungsi sebagai 'PERWAKILAN' atau hanya 'MEDIA PENCITRAAN'. Kalau saya, seringkali menjadikan quotes sebagai perwakilan.
Hayooo, yang baca ini ada yang sadar nggak posting / nulis quotes itu untuk apa? Berani jujur itu baik, kayak iklan rinso. Eh itu kan berani kotor itu baik.

Kemarin, aku ketemu temen-temen dari komunitas "Teman Ogut Malang" membahas tentang self-update/self development. Menemukan teman-teman baru, keluarga baru, dan pengalaman baru.
Yang menjadi kesimpulan adalah SELF AWARENESS, kesadaran diri. Kenal gak sih kita dengan diri sendiri, apa sih kekuranganku, apa sih yang rusak dari diriku. Sebelum kita bergelut mengembangkan diri dengan quotes dan planning maka kenali dulu dong diri kita.

Quotes hanya bekerja pada mereka yang memiliki kesadaran diri. Kami kemarin total membongkar kesadaran diri, tak ada yang pamer cerdas atau kepopulerannya. Kami kemarin MENCARI KESALAHAN-KESALAHAN DASAR pada diri kami. Agar kami tau, apa yang harus kami ubah, apa yang harus kami kembangkan.

Aku mencoba berkomunikasi dengan diriku, "apa sih dev maumu?"
"Aku nggak mau disakiti"
"Lalu kenapa kamu memberi kesempatan untuk disakiti, emang kamu dipukul? Kamu dihina?"
"Enggak juga sih"
"Ya itu hanya ada dalam pemikiranmu saja, coba ubah pola pikirmu"
Sesekali boleh kasar 😂 "heh dev lo punya kepala nggak sih, lo itu digerogoti tapi tetep aja jaga perasaan. Lo mending kehilangan orang lain apa kehilangan diri lo sendiri?"

.

.

.

Sekarang kutantang para pembaca dengan kalimat pertanyaan berikut (karena quotes tak akan bekerja sebelum mengenali diri sendiri)

"Wahai diriku, apa yang kau mau? Apa yang sudah kaulakukan untuk mencapai kemauanmu itu benar? Apakah kamu nyaman? Apakah kamu bisa menjaga kesehatanmu? Apa yang kaulakukan itu sesuai dirimu?
Apakah kau sering berbohong untuk menutupi kelemahanmu?"

- The end

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Something called "Special"

Teman Baik #LupusTalk

Meningkatkan Self-Awareness