Si Pintar yang Bodoh
"Ternyata, berpura-pura itu adalah kebodohan yang tertunda"
Sosmed akan menjadi boomerang untuk kita. Kita bisa mendapatkan manfaat, juga mendapatkan aib. Bagaimana tidak, berbagi informasi, berjualan, bersilaturahmi, hingga hiburan. Tapi di sana kita juga bebas diserang, mudah menemukan hoax, iri dengki dengan hidup orang yang terlihat lebih bahagia, mudah sekali mencari musuh, hingga menjadi bodoh.
Kali ini, aku tertarik membahas dampak sosmed 'menjadi bodoh'.
Kita seringkali menyaring apapun yang akan kita posting di sosmed guna terlihat bagus di mata netizen. Foto, caption, informasi, dan tampilan sosmednya sendiri (feeds).
Menggunakan filter agar terlihat artistik. Menulis caption terbaiknya agar dipandang bijak, pandai, dan menyenangkan. Menghapus komentar-komentar buruk agar tetap terlihat positif. Ini bukan sesuatu yang buruk, ini sudah menjadi trend di era android berjaya.
Tapi, ketika kita sibuk sekali memperbaiki feeds sosmed, seringkali lupa untuk memperbaiki kekurangan diri sendiri. Lupa meng-upgrade isi kepala, sampai-sampai feeds sosmed kita lebih keren/lebih baik dari pada hidup pemilik akunnya.
Aku tak pandai berbahasa Inggris, tapi aku sudah merangkai kata untuk caption di sosmedku. Tapi aku mau lebih keren, jadi aku ingin mengubah bahasanya dengan bahasa Inggris. Aku bergantung pada Google Translate, dengan pede aku copas di kolom caption. Beberapa menit kemudian, ada yang komentar, "salah tuh bahasa Inggris-nya".
Siapa yang pernah seperti itu?
Iya aku sendiri pernah
Mana yang komentar ini langsung di depan mata, ahli bahasa Inggris.
Malu?
MALU BANGET ANJAYYYYY
Ingin 'terlihat' keren itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Terus isi kapasitas diri, upgrade selalu isi kepala, perbaiki attitude, dan jangan berpura-pura bisa jika memang tidak bisa.
Berkatalah sesuai isi kepalamu, isi 'pengalamanmu', dan isi dompetmu.
Komentar
Posting Komentar